Posts

(Edu) Hostel, Yay or Nay?

Image
Photo courtesy of Tripadvisor.com Sejak lama saya ingin merasakan tinggal di sebuah hostel, ketika melakukan satu perjalanan. Dalam bayangan saya, tinggal di hostel berarti punya kesempatan untuk bertemu sekaligus kenalan dengan orang asing. Bukan cuma satu, mungkin bisa berkenalan dengan lima orang sekaligus. Bisa saling berbagi cerita tentang destinasi, atau rencana perjalanan selanjutnya. Lalu, memilih menginap di hostel berarti merasakan tidur di tempat tidur bertingkat yang sepertinya seru (hahaha, ini lebih ke norak, kayaknya). Awal Agustus tiba-tiba saya punya ide, bagaimana kalau tahun ini agak istimewa saat ulang tahun: melakukan perjalanan ke suatu tempat. Setelah berpikir beberapa hari, akhirnya saya bulatkan tekad untuk mewujudkan ide ini. Pilih tempat yang dekat dan lumayan tahu saja dulu, pikir saya. Jogja menjadi pilihan kali ini. Kenapa Jogja? Karena saya punya rencana mau lihat matahari terbit di Borobudur tepat di hari ulang tahun, dan menutup hari dengan mata...

Mengembara ke Ciletuh Geopark

Image
Uniey berjalan pelan sambil sesekali menghela nafas. Kadang, ia juga berhenti, istirahat sejenak. Saya, yang berjalan agak di depannya, ikut berjalan pelan bahkan ikut berhenti. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 17.20, Uniey buka suara, "Lo duluan aja, Nev. Nanti gue minta aja foto sunset -nya."  Tapi saya tetap berjalan pelan menuggu Uniey. Sesekali, saya teriak memberikan semangat untuk dia. Memang, perjalanan menuju Puncak Darma di kawasan Ciletuh Geopark, bukan perjalanan yang mudah. Bikin capek, tepatnya. Jalan sepanjang tiga kilometer itu berupa bebatuan, dengan jalur menanjak dan sedikit menurun. Akhirnya, saat matahari pelan-pelan mulai turun ke arah Teluk Ciletuh, kami menyusul rombongan Adi, Wahyu, Suryo dan kang Irwin yang sudah sampai lebih dulu. Sunset di Puncak Darma Teluk Ciletuh yang mirip tapal kuda, terlihat jelas dari Puncak Darma. Lalu, dibawah lautan sana terlihat titik-titik putih. "Itu perahu-perahu nelayan yang mau mencari ikan ...

Sepotong Cerita di Bromo

Image
*Ini cerita yang tertunda, dari perjalanan satu tahun yang lalu Usia memang tak pernah bohong. Usai rafting seharian di Sungai Pekalen, badan ini terasa rontok semua. Niat untuk bangun pagi melihat matahari terbit di Bromo cuma jadi sekadar niat. Alarm berbunyi berkali-kali, tapi tidak ada dari kami berempat; Saya, Uniey, Wantah, dan Tieky,  yang benar-benar bangun. Hari ketiga di Jawa Timur memang kami rencanakan untuk ke Bromo, melihat matahari terbit. Tapi karena terlambat bangun, niat itu sudah tidak mungkin. Kami tetap ke Bromo, mau melihat sudut magnet Bromo lainnya. Pananjakan 1 -yang dikenal sebagai tempat melihat matahari terbit, adalah tempat pertama yang kami datangi. Meski tidak ada sunrise lagi di Bromo , Batok dan lautan pasir tetap jadi subjek foto yang menarik. Perjalanan berlanjut menuju kawah Bromo. Dari kaki kawah Bromo tampak ramai orang yang hendak menuju ke atas. Saya tidak berniat untuk ke sana karena sudah pernah. ...

Terguncang-guncang di Bandung Barat

Image
  Follow my blog with Bloglovin Semenjak hadir tanda pagar (#) explore (yang diikuti nama kota) di Instagram, muncullah wajah-wajah destinasi wisata yang selama ini belum diketahui publik di sosial media. Salah satunya adalah explore wisata di Bandung Barat yang selama ini lekat dengan Tangkuban Perahu. Bermula dari hasil berburu di semacam acara bazaar tempat-tempat wisata dalam skala kecil di Citos, saya dan Uniey menemukan trip seru yang patut dicoba. Kenapa patut dicoba? Karena wisata di  Bandung Barat ini hanya sehari saja, lalu jenisnya adalah off road. Ini jenis trip yang belum pernah kami coba. Setelah rencana sana-sini, akhirnya trip dari akun @Jalan2terus yaitu off road dan dilanjutkan dengan berburu matahari terbit di Bukit Upas, Bandung Barat, sepakat untuk kami ikuti. Trip off road dan berburu matahari terbit di Bukit Upas itu diikuti oleh saya, Uniey, Wantah, Adi dan Tikey. Seperti ini jalan yang harus kami lewati dengan berjalan kaki saat...

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can

Image
Kapas Biru My trip to Lumajang about two weeks ago also listed two waterfall in Lumajang to be visited: Kapas Biru and Tumpak Sewu. First destination was Kapas Biru. This waterfall is located at Pronojiwo. If you kind of adventurous traveler, I bet you will like this destination. It take about 1-2 hours to reach Kapas Biru, you will do this things a long the way: climbing stairs, walking on steep ground, passing salak (snake fruit) plantation, rice fields, and also passing little river. The things I like from the trip to Kapas Biru was the concern from the villagers around the waterfall on the cleanliness. They made a simple bin (just from bamboo and plastic) every less or more 100 meters. There was also  a sign that written about put the trash in the bin. That’s really nice I think, since it really hard (in Indonesia, in my opinion) to educate people who came to tourist attraction to do not litter. I hope the visitors will obey the rules that the villagers alr...

Mengejar Sunrise di Puncak B29

Image
Entah dimulai sejak kapan, saya selalu merasakan momen magis ketika bisa melihat langsung mentari terbit, di mana pun. Dimulai dengan melihat warna langit bergradasi biru dan jingga, hingga akhirnya matahari muncul, pasti ada perasaan haru, kagum, dan entah apa lagi karena saya sendiri kesulitan untuk mendapatkan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Ingin kembali merasakan momen magis itu yang membuat saya begitu bersemangat bangun jam 02.00 pagi pada 14 Agustus lalu. Pagi itu saya sedang berada di Lumajang, Jawa Timur, bersama empat orang teman. Tempat yang akan kami tuju namanya Puncak B29 berada.  Katanya, ini puncak tertinggi di kawasan tepi kaldera Bromo. Tingginya mencapai 2900 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sebenarnya, tinggi puncak ini setara dengan Gunung Prau di Dieng, Jawa Tengah. Namun, kalau menuju Prau harus melewati perjalanan masuk hutan selayaknya naik gunung, menuju B29 bisa menggunakan ojek. Ini tentu kabar menyenangkan untuk mereka yang tidak kuat...

Berganti Usia di Dieng Plateu (Part 2)

Image
Dieng, 24 Februari 2015 Alarm berbunyi. Sudah pukul 03.00, rupanya. Saya  langsung terbangun. Begitu juga dengan Uniey. Tanpa buang waktu, kami cuci muka dan segera memasukkan beberapa keperluan untuk melihat sunrise (sekali lagi) di Sikunir. Dieng pagi itu sama seperti kemarin. Dingin tak terkira, meski tubuh sudah dibalut jaket, kupluk, pashmina dan kaos kaki. Dibawah mas Dwi sudah siap. Ia mengajak temannya, tapi saya lupa siapa namanya, sebagai pengantar ke Dieng. Saya dibonceng mas Dwi. Lelaki yang senang bercanda ini tahu benar bagaimana membawa kendaraan yang baik, terlebih saat membawa tamu. Dia menyediakan helm dan tidak memacu motornya kencang-kencang. Rasa takut yang kemarin saya rasakan ketika dibonceng mas Cebong, seketika hilang. Saya percaya dengan si pemacu mesin ini.  Sesampainya di  gerbang Sikunir, teman mas Dwi memutuskan tidak ikut ke atas. Jadi, hanya kami bertiga yang akan melihat sunrise pagi itu. Perjalanan menuju Sikunir pagi itu ter...