Melaka, Antara Drama Mencari Hostel dan Resepsionis Ganteng

Selamat datang di Melaka


Hampir menangis karena lelah berkeliling sambil menggendong ransel dengan berat mungkin sekitar 7 kilogram, saya merutuk dalam hati, "Aaakh, monyeeet. Ini hostel di mana sih, lokasinya?" Sudah hampir kurang lebih 30 menit setelah sampai di daerah Bangunan Merah, Melaka, saya belum juga menemukan hostel tempat saya menginap. Sore itu, sekitar pukul 6.30 petang, saya mencari Sayang-Sayang 2 Youth Hostel, hostel yang akan menjadi tempat saya menginap selama di Melaka.


Menjelang matahari terbenam di dekat hostel

Terus berkeliling di Melaka bagian ujung kawasan Pecinan, saya tetap gagal menemui Sayang-Sayang 2 Youth Hostel. Padahal, Waze dan Google Maps sudah saya jadikan pegangan untuk penunjuk jalan, tapi memang tampaknya sinyal yang kurang bagus membuat kedua aplikasi itu tidak bisa memberi arah yang tepat. Saya terus berkeliling di tempat yang itu-itu saja. Saat saya memutuskan untuk ambil arah lain yang berbeda dari petunjuk Waze atau Google Maps, kilometer yang tertera di kedua aplikasi itu justru semakin membesar angkanya. Putus asa dan hampir mau bikin drama, tapi hati kecil justru seolah mengejek diri sendiri. "Hahaha, baru tersesat kayak gini udah kesal dan marah. Katanya backpacker, petualang." ejeknya. "Dammmn, you! rutuk saya ke hati kecil.

Kawasan Bangunan Merah, Melaka

Saya coba menenangkan diri sendiri. "Tenang, semuanya akan baik-baik saja, pasti ketemu hostelnya." Saya kembali lagi ke titik awal ketika tiba di Melaka, kawasan Bangunan Merah. Saya putuskan untuk menyeberang ke arah H&M, dan belok ke kiri. Dari tadi saya belum lewat situ. Mungkin di sana hostelnya. Nyatanya, hampir sepuluh menit menelusuri kawasan itu, saya tetap tidak berhasil menemui Sayang-Sayang 2 Youth Hostel. Akhirnya, saya putuskan kembali ke arah H&M, dan  bertanya pada seorang petugas keamanan sebuah toko oleh-oleh. Dia tidak banyak membantu karena katanya, "I'm sorry, I can't speak Malay because I'm Nepali." Baik lah. Saya kembali menyusuri arah H&M, dan melihat kantor polisi pariwisata. Masuk ke sana, saya jelaskan permasalahan saya dalam bahasa Indonesia. Salah satu dari dua petugas di sana langsung membuka komputer dan mencari letak jalan tempat hostel saya, Jalan Bunga Raya. Mereka tidak langsung menemui nama jalan itu. Sampai akhirnya, salah satu dari mereka bilang kalau tidak salah, Jalan Bunga Raya itu dekat dengan Discovery Cafe.

Saya ikuti petunjuk petugas itu, mencari letak  Discovery Cafe. Benar saja, di depan Discovery Cafe ada petunjuk nama jalan. Jalan Bunga Raya yang dari tadi saya cari, tertulis di sana. Ke arah kanan, saya susuri Jalan Bunga Raya. Hanya selemparan batu dari petunjuk jalan itu, saya melihat plang Sayang-Sayang 2 Youth Hostel. "Aaah, monyeeet, akhirnya ketemu juga!, " lagi-lagi kata saya dalam hati, tentu masih dengan perasaan kesal. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30.

Kawasan Bangunan Merah, Melaka

Di depan hostel saya coba buka pintunya. Terkunci. Lalu saya ingat pesan dari seseorang yang mengangkat telepon saya sehari sebelumnya, "I'm leaving at 6 o'clock. You can call the number that written on the door when you want to check-in." Sehari sebelum tiba di Malaysia, saya telepon hostel ini untuk mengabarkan kalau saya akan late check-in. Ada dua nama dan dua nomor tertera di kertas itu: Wan dan Hugo. Belum sempat saya telepon, tiba-tiba dari arah meja resepsionis berdiri sosok laki-laki bule, berjalan ke arah pintu.  Orangnya cakep! Wajahnya sedikit lonjong, matanya berwarna cokelat dengan rambut pirang namun tidak terlalu terang. Badannya tinggi menjulang, mungkin hampir sekitar 180 cm. Dia tidak kurus atau gemuk. Seketika itu juga, rasa capek, kesal, dan marah karena susah mencari hostel ini, langsung luruh. Dalam hati langsung sibuk bilang, "Ya ampuuun, ganteng banget ini orang." Hahaha, gampang banget obat kesalnya.

Hugo. Itu nama resepsionis berwajah tampan yang menyambut saya. Dengan bahasa Inggris yang terdengar beraksen latin, dia bertanya apa saya sudah booking. Saya langsung serahkan voucher Traveloka. Lalu, Hugo sibuk membuat nota. Tak lama, ia menyerahkan kunci kamar sambil menjelaskan cara kalau ingin ke luar hostel. Cukup pencet semacam saklar. Hugo juga bilang caranya masuk ke hostel, dari luar. Lagi-lagi saya terpana dengan wajah tampannya. Saya bengong sewaktu dia menjelaskan, dan akhirnya berujung wajah kebingungan. Akhirnya Hugo mengajak saya keluar. Dia jelaskan lagi kalau saya mau masuk, cukup tempelkan kartu di semacam panel, pintu akan terbuka. "Oh, ok, I get it," kata saya. Hahaha, maaf ya, mas ganteng, saya gak fokus karena kamu kelewat cakep. Rugi kalau enggak ngeliat kamu lekat-lekat.

Mural di dekat kawasan Jonker Street

Lalu Hugo mengajak saya ke lantai 1, kamar nomor 11. Saya deg-degan. Di kamar nomor 11 Hugo mengajak ngobrol menjelaskan tentang caranya menyalakan lampu dan AC. Setelah itu, dia turun. Saya langsung coba menyalakan lampu. Loh, kok enggak mau nyala, ya? Saya coba juga memasukkan travel adaptor ke steker. Enggak nyala. Duh, mana handphone sudah sekarat baterenya.


Saya putuskan untuk  ke bawah, mencari perhatian Hugo, bilang kalau lampu tidak mau nyala dan saya bingung dengan cara memakai travel adaptor karena juga tidak mau menyala. Lalu, Hugo ke atas, memastikan apa benar kalau lampu tidak mau nyala. Nyatanya, dia tekan saklar lampunya, tadaaa, lampu menyala. Hahaha. Ternyata, saya salah. Saya pikir, yang ditekan itu adalah saklar di dekat lampu, seharusnya saklar yang ada di bawah AC. Baiklah, maaf kan saya, Hugo. Sebelum dia pergi, saya bilang lagi satu permasalahan, kalau saya suka melihat wajah gantengnya travel adaptor saya tidak bisa dipakai, kalau saya mau beli, di mana, ya? Hugo ambil travel adaptor saya, dan dia coba masukkan ke steker. Bisa. Hahaha, lagi-lagi saya jadi malu. Saya langsung sibuk minta maaf karena sudah merepotkan dia. Sambil tersenyum Hugo bilang, "No problem". Setelah itu dia pergi ke bawah.


Setelah Hugo pergi, saya coba untuk men-charge handphone, rupanya masalah datang lagi. Travel adaptor itu agak kendor. Sial. Haruskah saya memanggil Hugo lagi? Atau, apa lebih baik Hugo terus di kamar menemani saya untuk mengatasi semua kebodohan saya? Hahaha. Tapi akhirnya saya putuskan untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Saya coba cabut kabel charger dari travel adaptor dan langsung mencoloknya ke steker. Bisa! Hugo, selamat! Kamu tidak harus saya repotkan berkali-kali karena kebodohan saya. Hahaha.


Selesai dengan semua permasalahan hati karena langsung suka dengan Hugo, saya mulai beres-beres lalu mandi. Jam 8.30 saya putuskan untuk mengajak Hugo kencan  keluar menikmati kawasan Bangunan Merah di malam hari. Hi, Melaka, I'm ready to strolling around you, for two days!.

Comments

  1. Kak....kak....kalo nemu yang kinyis kinyis gitu laen kali ajaklah temennya ini 😌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, hayuk lah kak. Gue rela balik ke Melaka, asal bisa lihat Hugo lagi :P

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

(Edu) Hostel, Yay or Nay?

Jalan-Jalan Jakarta Lewat Susur Oranje Boulevard

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can