Catatan Perjalanan ke Ujung Kulon


Selamat datang di Pulau Peucang
Apa rasanya kalau alam menyambut kedatangan kita dengan memberikan sedikit kejutan berupa gempa? Apalagi kejadiannya di sebuah pulau terpencil. Di depan lautan, di belakang hutan. Perlu satu jam berjalan kaki menuju bukit. Semua perasaan negatif bercampur aduk jadi satu. Itulah yang saya rasakan saat mendatangi Pulau Peucang, di Taman Nasional Ujung Kulon. Yup, trip Peucang mencatatkan kenangan tak terlupakan sepanjang sejarah saya ngetrip. Ini cerita saya mendatangi tempat di paling barat Pulau Jawa dengan Uniey, Jikun, dan lima orang teman baru: Arifin, Tombak, Empe, Mila, dan Nuki.

Dermaga Peucang


School Fish di dermaga Peucang
                                                                                 
 Kedatangan

Plang  bertuliskan ‘Taman Nasional Ujung Kulon’ dengan tambahan tulisan ‘Pulau Peucang ’dibagian bawah seolah jadi ‘pemilik’ yang menyambut kedatangan kami disana. Tapi ‘pemilik’ sesungguhnya pulau ini adalah Pak Engkus. Lelaki bertubuh kurus dan pendek ini hangat menyambut kami. Ia petugas konservasi disini. “Silahkan ke penginapan,” adalah  kata pertama  yang diucap sebagai kata sambutan sambil menyalami kami.

Pulau Peucang adalah tempat para staf Taman Nasional Ujung Kulon bermukim. Disana berdiri beberapa bangunan. Ada kantor sebagai pusat informasi di sisi kanan, juga sebuah ‘rumah tinggal’ untuk para petugas di sebelah kiri. Selebihnya adalah sebuah mushalla dan beberapa bangunan siap sewa untuk pengunjung yang ingin jadi petualang disana.

Saat duduk-duduk di depan kamar, terlihat Rusa, Babi Hutan dan Monyet asyik bermain di halaman. Pak Engkus pun buka suara. “Hati-hati ya, dengan monyet-monyet disini. Jangan meninggalkan kamar begitu saja. Kalau mau keluar, jendela ditutup dan kamar di kunci”. Diberitahu begitu membuat beberapa pertanyaan meluncur dari kami yang ingin tahu lebih jauh tentang binatang-binatang nakal ini.

Monyet Peucang nan nakal
Monyet di Peucang gemar ‘merampok’ makanan pengunjung. Matanya bak mata Elang. Menyorot pasti pada makanan. Kalau sudah begitu makan jadi tak tenang. Mesti sigap sebelum jadi korban  ‘rampokan’. 
Penghuni Peucang lainnya yang juga gemar mengincar makanan pengunjung adalah Babi Hutan. Namun si Babi Hutan tidak senakal monyet.  Moncongnya saja yang tampak sibuk, selalu bergerak mengendus aroma makanan. Jika tercium, di bawah rumah dia akan setia menunggu jatah lemparan makanan.

Jungle Tracking Menuju Karang Copong
Hutan hujan tropis adalah pemandangan bagian belakang Peucang. Selain  rumah untuk beragam tumbuhan, ia  juga jadi sarang nyamuk Malaria. Buktinya, baru masuk kesana sudah terasa gatal gigitan nyamuk di tangan dan kaki saya. Ini menimbulkan pertanyaan dari Uniey, pada Pak Teguh. Pak Teguh orang Jakarta, warga Kalideres, tepatnya. Sejak tiga tahun lalu dia bertugas di Taman Nasional Ujung Kulon. Tanya Uniey, “Bapak pernah kena Malaria?” Sambil tertawa ia menjawab, “Semua yang tugas disini pasti pernah kena Malaria. Belum sah tugasnya, kalau belum kena Malaria.”

Tracking di hutan Peucang, seru. Ditemani suara Tonggeret  - sejenis serangga yang punya suara mirip kaca jendela kendaraan umum yang saling berbenturan saat kendaraan itu melaju kencang, sesekali kami harus menaiki batang pohon tumbang yang menghalangi jalan. Ini bukan perkara mudah. Pepohonan tumbang  itu punya lingkar yang lebar. Mungkin perlu empat orang yang saling berkeliling untuk bisa mengukur si lingkar. Jadi perlu sedikit memanjat untuk menyeberanginya. Makin terasa  nuansa hutan karena Rusa bertanduk juga menampakkan diri. Ada yang seolah terbiasa dengan kedatangan tamu, tapi ada juga yang langsung lari saat melihat rombongan kami.

Pohon Ara terbesar di Peucang
Perjalanan selama kurang lebih satu jam tuntas, kami tiba di bukit kecil. Ini tempat paling pas melhat Karang Copong dari jarak terdekat. Saya lebih senang menyebutnya ‘taman’. Alasannya, tempat itu terbilang asri dengan pepohonan rindang dan rerumputan hijau.

Pemandangan dari atas  ‘taman’ tak hanya Karang Copong. Hamparan laut luas kehijauan dengan bukit di kejauhan terlihat tepat dihadapan. Di sebelah kanan,  batuan karang kekuningan. Menengok kesana, ingatan saya langsung terbang  ke Uluwatu, Bali. Tidak sama persis, sih. Tapi itu yang terpikir di kepala.

'Taman' Karang Copong
Perairan dibawah ‘taman’ itu juga sangat bening. Karang-karang beserta ikan warna-warni berbagai ukuran di dalamnya terlihat jelas. Sayangnya tempat itu bukan tempat yang pas untuk snorkeling. Ombak wilayah Karang Copong terkenal ‘galak’.

Karang Copong juga dikenal sebagai spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam. Tapi, kami memutuskan tidak melihat sunset disana. Cidaon lebih jadi pilihan. Lagi pula, takut juga kalau harus menyusuri hutan saat gelap untuk sampai ke penginapan.

Cidaon
Cidaon letaknya diseberang Peucang. Menggunakan kapal, tempat ini bisa dicapai kurang lebih 10 menit. Banteng dan Burung Merak, dua hal yang ditawarkan tempat ini. Ada menara pandang untuk menyaksikan keduanya. Mungkin sore itu bukan keberuntungan kami. Sekumpulan Banteng hanya terlihat dari jarak jauh. Begitu juga seekor Burung Merak yang tengah mengembangkan ekornya.

“Kok Bantengnya berwarna cokelat? Lebih mirip Sapi,“ tanya saya pada Aang. Pemuda desa Taman Jaya ini adalah Nahkoda kapal “Panaitan”, kapal yang jadi kendaraan kami di Peucang. “itu Banteng betina. Banteng jantan baru berwarna hitam,” jelasnya.                                                                                 
Senja di Cidaon
Menjelang matahari terbenam, kami bergegas menuju pinggir pantai. Sunset time! Awalnya matahari terlihat bulat dan perlahan turun. Sayang, saat hampir tenggelam ada awan yang menutupi. Sunset yang sempurna tak kejadian di depan mata. Senja selesai, kami pulang ke Peucang.
                                                                                                                                                                 
Gempa Dini Hari

Di 11 April lalu gempa mengguncang Pulau Sumatera. Pusatnya di Pulau Simelue, Aceh. Ujung Kulon yang berada di jalur patahan Sumatera ikut kena efek domino, empat hari kemudian. Sekitar pukul setengah tiga  pagi gempa menggoyang wilayah itu. Jujur, saya kaget sekaligus takut. Belum pernah mengalami kejadian seperti ini sepanjang sejarah ngetrip. Sialnya Peucang benar-benar daerah terisolasi. Tak ada sinyal telepon seluler yang nyala. Bikin bingung mencari informasi.

 Di kepala saya berkelebat berbagai pertanyaan juga bayangan-bayangan buruk. “Berapa ya, kekuatan gempanya? Dimana pusatnya? Apa akan ada tsunami? Yang terakhir benar-benar bikin paranoid.  Bayangkan, di depan adalah laut. Sementara menuju tempat tertinggi butuh waktu satu jam.

Istri Pak Engkus yang jadi juru masak sekaligus yang mengurusi segala kebutuhan kami disana seolah membaca kekhawatiran saya dan teman-teman. “Enggak papa, mbak. Disini biasa. Biasanya pusatnya di Panaitan.” Bicara dengan logat Sunda kental, terdengar tenang dan pasrah.
Apa boleh buat, pagi masih nanti, tak ada yang bisa dilakukan selain mencoba tidur lagi. Baru mau merebahkan badan, lagi-lagi bumi bergoyang. Memang hanya beberapa saat dan tidak sekuat yang pertama. Tapi sukses bikin kami tidak tenang.

Saya dan Uniey memutuskan ke kantor, cari informasi. Disana ada seorang perempuan. Dia juga pengunjung yang ingin tahu tentang gempa. ”Tadi petugasnya sudah menghubungi Labuan, tapi tidak ada yang menjawab,” jelas perempuan itu.  Huaaah! Tapi perempuan itu bicara lagi, kali ini penjelasannya bikin hati saya sedikit tenang. “Mereka juga sudah ngeliat laut, katanya airnya tenang.”
Kembali ke penginapan, kami berdiskusi. Hasilnya, trip dipersingkat! Sesegera mungkin pulau ini harus kami tinggalkan. Kami terpaksa mencoret rencana snorkeling menikmati keindahan bawah laut Peucang.

Kembali ke Taman Jaya
Peucang pagi itu tampak indah dan damai. Langitnya biru, lautnya bergradasi, cantik! Seolah tak terjadi apa-apa semalam. “Wah, lautnya ngegodain kita, yakin enggak mau snorkelingan dulu?”, kata Uniey begitu melihat suasana pagi itu. Tampaknya gempa semalam mungkin semacam godaan atau salam selamat datang dari  Ujung Kulon untuk kami.

Jam 09.00 kami kembali naik “Panaitan”, bersiap menempuh perjalanan tiga jam perjalanan menuju Taman Jaya. Dan lagi-lagi sepanjang perjalanan semuanya terlihat normal. Air laut  tenang, langit biru cerah dengan gumpalan awan tipis-tebal, dan matahari juga bersinar terik.

Sambil memandangi laut dan pulau-pulau yang dilewat, saya bergumam dalam hati, “Masih banyak yang belum didatangi dan dilihat. Suatu hari nanti, tempat ini layak didatangi lagi. Tapi entah kapan.” Semoga di kunjungan berikut, Ujung Kulon benar-benar ramah menerima saya. Au revoir, Ujung Kulon!

Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can