Hong Kong 3 Days 2 Nights: Full of Rain (Part 2)

Gerimis dan awan abu-abu tebal menjadi pemandangan pagi saya di Hong Kong. Hmm, kemana musim panas itu, ya? Ini seperti di Indonesia, yang seharusnya sudah masuk musim kemarau sejak Maret, tapi masih terus-terusan turun hujan sampai sekarang. Setelah melihat letak Hong Kong sih, saya punya pemikiran wajar kok, kalau Hong Kong terus hujan. Wilayah administratif istimewa China ini di perbukitan, jadi seperti daerah Puncak di Jawa Barat itu, meski musim kemarau tapi hujan pasti juga turun.

Miniatur Sky100
Sampai waktunya keluar hotel di pukul 11.00 ternyata cuacanya masih terus mendung. Sesekali, turun gerimis. Jalan-jalan tetap dimulai dengan destinasi pertama, Observation Deck Sky100, gedung berlantai 118 dengan tinggi 484 meter. Nama gedungnya sendiri adalah International Commerce Center (ICC), untuk atraksi menyaksikan Hong Kong secara 360 derajat tempatnya bernama Observation Deck Sky100, terletak di lantai 100. ICC dimanfaatkan sebagai perkantoran, mal, restoran, dan hotel mulai dari lantai 103 sampai 118. Hotel apa yang ada disana? Ritz Carlton. Ini membuat hotel itu menjadi hotel tertinggi di dunia.

Sebelum benar-benar sampai  ke lantai 100, saya dan rombongan melewati tempat bernama Memory Lane. Ini sebuah ruangan dengan tiang di bagian tengahnya. Tiang-tiang itu ditempeli layar yang menyajikan video yang berkisah tentang sejarah Hong Kong. Selanjutnya kami masuk ke Time Tunnel. Disini terlihat berbagai foto Hong Kong terkait dengan sejarah dan budayanya, dari masa ke masa. Time Tunnel ini terkesan futuristik karena dindingnya dipenuhi lampu LED berwarna ungu. Lantai Time Tunnel di bagian ujung dibuat transparan dan memajang miniatur Sky100.

 Waktunya menuju lantai 100, melihat Hong Kong 360 derajat. Berapa waktu yang dibutuhkan dari lantai 2 menuju lantai 100 (yang tentunya menggunakan lift)? Cukup 1 menit! Yup, hanya sekejap mata saja saya sudah berada di lantai 100. Tidak percaya hanya butuh waktu 60 detik saja? Di bagian atap ada sebuah layar yang menunjukkan hitungan waktu mulai dari 0 sampai 60 sebagai buktinya. Tapi, siap-siap merasakan tidak nyaman di bagian telinga karena perubahan tekanan udara.

Dari balik kaca di lantai 100 terlihat 'wajah' Hong Kong yang dikeliling lautan, berbukit dan dipenuhi 'hutan
Pemandangan Hong Kong ke arah Victoria Harbour dari Sky100
beton'. Tapi sayang, semua tidak terlihat begitu jelas karena gerimis dan mendung. Di lantai 100 itu saya tidak hanya sekedar melihat Hong Kong dari ketinggian, tapi juga mendapatkan beragam informasi tentang Hong Kong. Ada banyak foto dan hiasan dinding pendukung informasi itu. Salah satu yang menarik adalah hiasan dinding berupa replika makanan khas masyarakat Hong Kong.

Sudut lain ruangan itu menyediakan teropong elektronik. Ia siap memberikan informasi gedung-gedung yang terlihat dari dua bulatannya. Sky100 juga ramah bagi para pelancong yang masih belum punya rencana akan kemana lagi setelah keluar dari gedung itu. Tersedia sebuah multimedia yang didalamnya punya itinerary planner. Pelancong bisa merencanakan perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya berdasarkan kategori. Mulai dari wisata kuliner, budaya, juga belanja, segala informasi tersedia disana, lengkap dengan petanya. Selesai memilih, itineraray yang direncanakan itu akan dikirim melalui email.

'Sudut Bercinta' tempat tepat melihat matahari Hong Kong terbenam
Sky100 juga menyediakan sudut bercinta. Bukan, bukan bercinta secara harfiah, tapi sebuah tempat duduk yang rasanya jadi tempat paling romantsi saat kita kesana bersama pasangan dan menjelang matahari terbenam. Terbayang oleh saya, matahari di Hong Kong terbenam diantara Lautan Cina Selatan yang menjadi lokasi Pelabuhan Hong Kong, dan bukit yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Sepakat lah kalau ini jadi sudut terbaik di tempat itu, untuk romantis-romantisan. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa balik lagi kesana lengkap dengan pasangan biar bisa bercinta *eh :P.

Lukisan-lukisan tiga dimensi berupa titian jembatan dari rantai dan seolah-olah kita berjalan diantara gedung-gedung pencakar langit, gedung yang bentuknya seperti perosotan, dan becak sesungguhnya dengan seorang penariknya berupa gambar orang adalah sudut lain yang ramai dikunjungi pengunjung. Di tempat ini mereka bisa puas berfoto mengabadikan aktivitasnya yang tidak biasa. Jadi, jika foto diambil di titik yang tepat, saat kita melihat hasilnya terlihat kita meniti jembatan rantai, merosot dari gedung atau sedang naik becak. Seru!

Mengunjungi Sky100 selesai, waktunya melanjutkan ke destinasi kedua, Ngong Ping yang terletak di Pulau Lantau.




Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can