Destinasi Berikutnya: Nepal




(Sumber foto: www.thehawkroad.com)



Perkenalan saya dengan negara bernama Nepal adalah ketika masih duduk di sekolah dasar, melalui layar kaca. Saat itu saya sedang menyaksikan acara pembukaan Olimpiade yang sayangnya sekarang saya lupa saat itu sedang berlangsung dimana. Di setiap acara pembukaan event akbar milik para olahragawan ini, selalu melangsungkan parade para atlet dari negara yang berpartisipasi, lengkap dengan bendera negaranya. Ketika masuk ke negara dengan abjad N, tibalah giliran negara Nepal. Begitu peserta masuk, terlihat bendera berbentuk segitiga dalam dua potongan, dengan gambar bulan sabit dan bintang putih di bagian atas, dan matahari putih di bagian bawah. "Loh, unik banget  benderanya.  Keren juga, ini negara. Anti mainstream," kata saya, dalam hati. Semenjak itu, saya penasaran dengan negara bernama Nepal. Hasil pencarian, kian banyak hal menarik tentang Nepal yang saya temui; mulai dari julukan sebagai "atap dunia", punya hubungan yang mesra dengan Indonesia, hingga jajaran pemandangan pegunungan Himalaya. Sejak saat itu, saya seperti mengafirmasi diri sendiri; membayangkan berjalan-jalan di sudut Nepal yang unik, dilanjutkan penjelajahan di kaki pegunungan Himalaya.

***
Suatu hari, seorang teman yang juga senang berkelana memberi kabar kalau AirAsia sedang bikin lomba penulisan blog. Iseng mau "tes keberanian" mengikuti lomba penulisan blog sekaligus mencoba peruntungan, saya coba buka Facebook dan langsung mencari FanPage AirAsia. Begitu melihat pengumuman perlombaan blog dari AirAsia dengan judul "Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu", saya langsung teringat dengan perjalanan yang pernah saya lakukan bersama beberapa orang teman, di akhir November 2011 lalu. Saat itu, saya dan teman-teman kantor bikin trip yang terbilang impulsif. Kenapa impulsif, karena tiba-tiba kami bikin rencana jalan-jalan dan segera mencari tiket dengan harga murah, di situs AirAsia. Untuk destinasinya, kami sepakat untuk ke Bali. Buat saya, ini seperti perjalanan impian. Kenapa? Bali begitu tersohor hingga ke mancanegara. Tapi dengan malu-malu saya akui, saya belum pernah kesana. Sebelumnya, saya sering membayangkan bagaimana Pantai Kuta, Tanah Lot, juga deretan sawah yang begitu apik dan hijau di Ubud. Sayangnya, saya tidak pernah punya kesempatan untuk kesana. Lagi-lagi karena alasan harga tiket yang terbilang mahal untuk ke Bali (ditambah (dulu) masih susah untuk menabung *loh, kok curcol :D)

Singkatnya, meski  akhirnya teman-teman yang berangkat berbeda dengan yang memesan tiket diawal -kecuali saya dan seorang teman, trip ini jalan terus. Tentu bergaya ala backpacker. Urusan tempat wisata yang dituju, penginapan, dan sewa mobil dicari lewat googling di internet sekaligus minta pendapat dua teman yang kebetulan orang Bali. Tepat 23-25 November 2011, lima orang perempuan ‘terbang’ ke Bali. Hasil impulsif trip itu, kami menjelajahi Garuda Wisnu Kencana, Uluwatu, Pantai Padang-Padang, Pantai Jimbaran, Tanjung Benoa, Tanah Lot, Seputaran Kuta, Sanur, dan ditutup dengan membeli oleh-oleh di Bali Hawaii. Sayangnya keinginan saya untuk bisa mendatangi Ubud belum terwujud di perjalanan kali ini.

(Sumber foto: www.http://www.nepaltravellers.com)

Sambil mengingat "meraih mimpi" ke Bali bersama AirAsia melalui foto-foto, saya juga jadi teringat pada mimpi menjelajahi Nepal. Kebetulan juga AirAsia sedang mengadakan lomba ini. Ah, apa ini semacam pertanda dari kalimat yang saya yakini: bermimpilah, maka alam raya akan mewujudkan mimpimu (bersama AirAsia) ? Ya, mudah-mudahan ini memang konspirasi yang saya harapkan :) Hei, Nepal, kamu adalah destinasi berikutnya dari perjalanan perkelanaan saya. Tunggu saya, ya!


*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog 10 Tahun AirAsia Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can