Pahawang

Dermaga menuju Pahawang
Lampung sepertinya adalah salah satu provinsi yang paling sering menjadi destinasi trip saya. Kalau untuk jalan-jalan, saya sudah pernah ke Kiluan juga ke Krakatau. Kalau untuk urusan keluarga, saya cukup sering mengunjungi Lampung. Banyak saudara di sini, jadi saya sudah beberapa kali ke Lampung untuk acara keluarga. Belum lagi kalau mau pulang kampung ke Lahat (Sumatera Selatan), konvoi, biasanya keluarga besar pasti memutuskan untuk istirahat sebentar di rumah saudara.
Snorkeling di sekitar Pahawang


Saya kembali ngetrip ke Lampung, tepatnya mendatangi Pulau Pahawang. Bertiga; saya Uniey dan Santi, ikut rombongan yang kami -awalnya- enggak kenal siapa saja mereka. Cukup nyaman ikut trip ini karena kami tidak harus bergonta-ganti bis. Penyelenggara menyewa satu minibus yang berkapasitas sekitar 10 orang.

Mengunjungi daerah pantai, saya jadi teringat ucapan seorang teman satu kantor, beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya bilang saya kurang suka jalan-jalan ke laut (tapi percayalah, itu dulu sewaktu saya belum pernah ngetrip ke laut dan kenal snorkeling :D). Dia bilang, "Enggak suka pantai? Lo tau enggak, orang-orang yang tinggal di daerah pantai adalah orang-orang yang paling terbuka dan ramah, apalagi terhadap pendatang". Menurut dia, ini ada alasannya: zaman dulu, orang berkeliling dunia, caranya lewat laut. Di satu tempat yang dituju, pendatang itu mendarat dan penduduk sekitar awalnya mungkin mereka merasa aneh. Namun akhirnya pendatang dan penduduk berakulturasi. Membentuk kebiasaan-kebiasaan baru, membentuk masyarakat, dan akhirnya berkembang jadi kota. Saya hanya manggut-manggut mendengarnya.








Setelah saya mulai keranjingan ngetrip,apalagi kebanyakan yang dituju adalah pantai, saya jadi setuju dengan ucapan dia. Saya sudah membuktikannya. Sewaktu ngetrip di Pulau Tidung, saya dan teman-teman tidur di rumah penduduk. Si empunya rumah begitu ramah, tidak merasa terganggu dengan kedatangan kami. Trip ke Ujung Genteng kembali jadi bukti lagi. Menginap di rumah penduduk, si empunya rumah lagi-lagi begitu ramah dan tulus.  Keramahan dan ketulusan penduduk pesisir terus saya rasakan seiring dengan perjalanan ke daerah pantai yang saya lakukan.

Just You and I *nyanyi sambil megang ukulele gaya Zee Avi
Keramahan, ketulusan dan kebaikan penduduk Pahawang (lebih tepatnya ibu pemilik rumah tempat saya dan teman-teman menginap) adalah salah satu yang saya masih ingat sampai saat ini. Padahal, waktu itu si ibu sempat salah kira. Ia pikir, rombongan yang menginap di rumahnya baru akan datang minggu depan. Tapi dengan sigap ia segera menyulap rumahnya menjadi 'kamar raksasa' yang diinapi oleh hampir sepuluh orang. Ia juga kerap berbagi cerita, termasuk tentang aktivitasnya sebagai 'aktivis' PKK. Bagaimana ia dan masyarakat di Pahawang mulai menyadari kalau Pahawang tengah naik daun dan dikunjungi
banyak orang. Penduduk disana kian sigap menyiapkan rumahnya menjadi tempat penginapan.

Pagi di Pahawang


Saya sendiri suka dengan pemandangan di Pahawang dan di pulau-pulau sekitarnya. Apalagi waktu itu, saat pagi, sambil bermain di pantai usai melihat matahari terbit, ada dua pelangi yang ikut menemani saya. WOW!


Sore di Pahawang

Langit biru, awan putih terbentang indah lukisan Yang Kuasa *nyanyi bareng Sherina

 Semoga suatu hari saya bisa kembali ke Pahawang dan menikmati pulau cantik ini lagi.


Comments

Popular posts from this blog

(Edu) Hostel, Yay or Nay?

Jalan-Jalan Jakarta Lewat Susur Oranje Boulevard

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can