Mendadak Mudik


Liburan akhir tahun 2014 lagi-lagi saya habiskan di tanah Sumatera. Kenapa saya bilang kalau ini lagi-lagi? Karena tahun lalu pun saya pergi ke Sumatera, Lampung tepatnya. Sebenarnya, tahun lalu tidak benar-benar liburan, tapi ada acara keluarga. Namun, disempatkan untuk jalan-jalan walau hanya ke Pantai Mutun dan makan bakso di Lampung yang paling ternama, Sony :D

Liburan cum mudik di akhir tahun ini tidak direncanakan, tapi entah bagaimana ceritanya ternyata keluarga besar memutuskan untuk mari kita pulang kampung. Jadilah, tiga mobil menuju Baturaja, Lahat, dan Pagar Alam pada 25 Desember 2014-1 Januari 2015.

Saya sendiri bukan termasuk orang yang rajin pulang kampung. Terakhir pulang kampung kalau tidak salah di 2004. Artinya, 10 tahun yang lalu. Rasa kangen pada kampung halaman sering muncul. Kangen pada suasana yang kekeluargaan, udara dingin, jajaran sawah dan pohon kopi, juga rumah panggung.

Jajaran Bukit Barisan



Kebun Kopi

Kampung saya, Lahat, terkenal dengan bukit yang berbentuk seperti telunjuk dan ratusan batu dari zaman Megalitikum, terletak di jajaran Bukit Barisan. Jadi, hutan masih mendominasi disana. Sayangnya, semenjak daerah ini diketahui punya sumber batubara yang tinggi, terjadi eksplorasi  (atau eksploitasi?) besar-besaran. Dampak yang langsung terasa selama saya disana, udara jadi tidak sedingin sewaktu saya pulang kampung 10 tahun yang lalu.Begitu juga dengan sungai, banyak yang alirannya kian kecil, tidak sederas dulu.


Pasar di Kota Agung




Salah satu kekhasan kampung saya adalah hari pasar. Di daerah ini setiap kecamatan punya hari pasar masing-masing. Misalnya, di kecamatan A hari pasar (atau masyarakat sana menyebutnya "kalangan") adalah hari Senin, di kecamatan lainnya hari pasarnya adalah Selasa, dan begitu seterusnya. Kalau masyarakat kecamatan A membutuhkan sesuatu (biasanya kebutuhan pokok) padahal hari itu tidak ada pasar di wilayahnya, ia harus pergi ke kecamatan lain yang sedang ada hari pasar untuk membeli kebutuhannya. Tapi, itu cerita dulu. Sekarang, terima kasih atas kemajuan zaman dan diler motor yang merambat kemana-mana, saat ini di desa-desa pun sudah ada tukang sayur yang berjualan setiap hari.


Saya sendiri menyempatkan diri datang ke pasar. Alasannya, penasaran ingin tahu seperti apa pasar khas sebuah kampung. Meski pasarnya berantakan, tapi seru juga melihat barang-barang yang dijual disana. Hasil pengamatan, saya jarang melihat ada yang jual ikan laut disana. Wilayah ini memang jauh (sekali) dari laut, jadi lupakan ikan dan jenis lautan lainnya di daerah ini. Urusan makanan, kuliner khas daerah tentu ada, tapi juga ada yang berjualan martabak juga bakso dengan nama tempat "Bakso Edy Jawa". Untuk menunjukkan kalau penjualnya adalah pendatang? Bisa jadi. Atau sebagai informasi ini loh, hal baru di daerah ini, berasal dari Jawa. Mungkin juga. Hahaha, iseng banget ya, melakukan analisa ngaco. Sayang memang enggak sempat ngobrol dan beli baksonya karena harus segera pergi.

Durian kuning, legit, matang di pohon

Pondok kecil tempat menunggu durian jatuh


Keseruan lain dari pulang kampung kali ini adalah PUAS MAKAN DURIAN YANG MATANG DI POHON. Di kampung, Desember adalah musim buah-buahan. Durian salah satunya. Saya dan keluarga besar berhenti di sebuah kebun yang kebetulan milik saudara dari bapak. Walhasil, saya tidak bisa berhenti makan durian. Bagaimana bisa mau berhenti, duriannya kuning, manisnya legit, dagingnya cukup tebal. Akibat tidak bisa berhenti makan durian, saya sampai pada tahap 'kedurenan'. Saat sendawa yang keluar aroma durian, saat mengeluarkan gas dari bagian paling belakang tubuh ini, lagi-lagi yang tercium aroma durian namun dalam versi tidak enak. Walau sudah begitu, nyatanya saya tidak juga kapok makan durian. Tapi keesokan harinya akhirnya saya terpaksa menyerah, melihat durian saja rasanya sudah bikin bergidik, apalagi sampai mencium baunya.


Nikmat durian mana yang kau dustakan? :D


Selain ke Lahat, saya juga jalan-jalan ke Pagar Alam. Kalau ini, adalah daerah tetangga Lahat yang terkenal dengan Gunung Dempo dan perkebunan teh. Saya juga sempat mendatangi dua air terjun dari begitu banyak air terjun yang ada di Pagar Alam.
Kebun teh di Pagar Alam

Curup Mangkok
Meski agak diluar ekspektasi untuk ambil foto dan pengalaman juga sensasi udara dingin, tapi saya cukup puas. Well, sampai ketemu lagi (entah kapan) kampung halaman :)

Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can