Berganti Usia di Dieng Plateu (Part 1)

Di atas Kopaja AC jurusan Senen-Lebak Bulus, menuju rumah, saya pandangi kedua kaki. Bengkak. Ini hasil duduk sejak pagi hingga sore dengan total waktu 10,5 jam perjalanan usai menikmati Dieng Plateu selama dua hari.

Perjalanan dua hari itu dimulai 22 Februari, pukul 06.20 dari Gambir. Perjalanan ini bermula dari ajakan seorang teman, Uniey, yang kebetulan akan berulang tahun di 24 Februari.  Awalnya saya menanggapi agak angin-anginan, tapi entah kenapa makin mendekati akhir pekan, kok saya semakin ingin melakukan perjalanan ini. Sabtu Pagi, kembali saya WA Uniey, “Jadi enggak ke Dieng?” “Jadiin aja, yuk,” menjadi kalimat yang akhirnya membawa saya tiba di Purwokerto setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam menggunakan kereta Purwojaya jurusan Gambir-Cilacap.

Tanpa ba-bi-bu kami langsung menyetop angkot. Kali ini tujuannya adalah terminal Purwokerto untuk menuju Wonosobo. Tiba di terminal, calo-calo sibuk mendatangi kami, menanyakan tujuan. Dijawab Wonosobo, seorang diantaranya langsung mengantar kami ke sebuah bus berukuran ¾. Masih sepi, hanya ada seorang perempuan yang duduk di bagian paling depan yang ada di dalamnya. “Ke Wonosobo kurang lebih tiga jam, mbak,” kata perempuan itu ketika Uniey bertanya waktu tempuh. Pukul 12 lewat bus itu berangkat dengan sebagian badannya telah terisi penumpang. Melewati Purwokerto yang panas dan ruang yang sempit untuk bergerak, saya tertidur. Sesekali terbangun ketika merasa posisi kepala sudah terlalu miring ke kiri atau kanan.

Tepat pukul 15.00 kami tiba di Wonosobo. Lagi-lagi para calo sibuk bertanya. Saya sendiri ditanya oleh tukang bakso. Dia bilang, menuju Dieng tidak ada bus yang langsung, jadi naik dulu bus ukuran 3/4 lalu turun di perempatan yang saya lupa namanya. Disana baru ada bus menuju Dieng. Setelah bus datang, kami bergegas naik. Nyatanya memang singkat saja, kurang lebih 10 menit sang kenek bilang kami bisa turun dan menyambung bus menuju Dieng. Lagi-lagi kami naik bus berukuran ¾.

Bus itu belum terisi penuh. Ini membuat si supir sangat gemar menghentikan bus untuk mencari penumpang. Saya yang sudah bosan dengan duduk, sesekali melirik ke arah sopir. Berharap ia punya rasa kasihan pada dua perempuan yang sudah duduk lebih kurang 7 jam. Nyatanya, ia justru berhenti sangat lama ketika hampir memasuki jalur Dieng yang berliku.

Memasuki Dieng, samar-samar saya  mencoba mengingat perjalanan karya wisata ke Dieng saat SMP. Ah, saya tidak berhasil mencoba mencocokkan keadaan Dieng sekarang dengan masa itu. Yang saya ingat, kendaraan menuju Dieng masih sama tipe busnya, ¾. Tapi rasanya perjalanan sore itu tak seseram dulu; berkabut dan kanan-kiri jurang. Kurang lebih dua jam, kami tiba di pertigaan kawasan wisata Dieng. Hari sudah sore dan udara dingin khas dataran tinggi mulai saya rasakan.

Kami belum punya tempat menginap. Saya sendiri tidak melakukan pencarian informasi apapun atas perjalanan ini. Semuanya saya serahkan pada Uniey :D. Berjalan sedikit dari pertigaan, kami menuju sebuah rumah dengan cat berwarna merah dan putih. “Bu Djono”, begitu tulisan yang tertera pada spanduk plastik yang dipajang bagian atas rumah itu. “Ini pengingapan yang direkomendasikan Lonely Planet,” kata Uniey. Kami pun mantap melangkah masuk.

Losmen Bu Djono

“Silahkan lihat-lihat dulu, mbak,” kata seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus dan memakai kaca mata. Ia menuntun kami menuju bagian atas. Diperlihatkannya kamar tanpa kamar mandi.  Lalu ia mengajak kami menengok kamar lain; kamar mandi di dalam. Kamarnya cukup luas dengan spring bed yang cukup untuk dua orang. Ada tv dan sebuah lemari. Kamar mandi berukuran mini dilengkapi water heater, shower dan wc duduk, terletak berhadapan dengan lemari. Ada jendela yang memperlihatkan bagian samping penginapan itu. Di luar sana terlihat jajaran tempat makan meski semuanya tutup.

Kamar dengan kamar mandi di dalam menjadi pilihan kami. Sebelum masuk kamar, kami melakukan check-in dulu sambil dijelaskan berapa harga yang harus kami bayar. Kamar dengan kamar mandi di dalam berharga Rp150.000, sedangkan Rp75.000 adalah harga kamar dengan kamar mandi di luar. Setelah itu laki-laki yang tadi menunjukkan kamar bertanya lagi, “Sudah tahu mau kemana saja selama disini?” “Mau lihat sunrise di Sikunir,” jawab Uniey yang punya hajat jalan-jalan.  Mas Kelik, nama laki-laki itu, segera mengambil selembar kertas bergambar peta Dieng. Setelah kami duduk berhadapan, jelas terlihat kalau kertas yang dipegang mas Kelik memperlihatkan wilayah Dieng yang terbagi dalam tiga tujuan wisata.

Foto sunrise di Prau yang terpajang di seberang tempat duduk kami terlihat begitu menggoda. Langit biru cerah dengan siluet beberapa pegunungan. Akhirnya, pilihan wisata untuk hari pertama di Dieng adalah melihat sunrise di Prau, keliling Telaga Warna, kawah, dan Candi ketika siang. Hari kedua, Sikunir yang dituju, untuk melihat matahari terbit di umur Uniey yang baru. Rencananya, usai sunrise kami langsung menuju Purwokerto untuk pulang ke Jakarta.

Pukul 01.30 sebuah ketukan membangunkan saya dan Uniey. Mas Yayang yang mengetuk. Ia adalah guide kami untuk melakukan perjalanan menuju Prau. Melawan dinginnya suhu di kamar, kami mempersiapkan perjalanan itu. Kaos kaki, celana panjang, sarung tangan, dan tentu saja jaket. Sialnya, itu tetap tak berhasil mengusir dingin. Padahal kami masih di dalam kamar. 

Biasanya, perjalanan menempuh Prau ditempuh selama dua jam untuk jarak sekitar 13 kilometer. Berbekal tas kamera dan makanan kecil juga minuman, kami siap menuju Prau tepat pukul 02.00. Kabut tebal menemani perjalanan pagi itu. Dinginnya tak terkira. Tak lama, kami harus berjalan menanjak. Disini saya mulai merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Nafas terdengar berisik, Jantung pun berdetak lebih keras. Saya tidak sendiri. Uniey juga merasakan hal yang sama. “Oksigen makin tipis, ada baiknya bernafas lewat mulut,” saran mas Yayang saat Uniey minta waktu istirahat sebentar.

Perjalanan kami lanjutkan. Saya berjalan paling belakang, memegang senter. Saran mas Yayang saya ikuti, hasilnya jantung tidak lagi berdetak kencang, meski nafas sedikit ngos-ngosan. Tapi tidak dengan Uniey. Ia semakin merasa tidak nyaman dengan perjalanan itu. Semakin lelah dan nafas kian sulit. Rasa mual juga muncul. Mas Yayang segera mengeluarkan alat bantu pernafasan. Uniey menghirup isi kaleng itu sebanyak dua kali.

Kurang lebih kami berhenti sampai lima kali. Saya bilang ke Uniey,” Masih mau lanjut? Kalau enggak kuat, jangan dipaksa.” Mas Yayang bertanya jam berapa saat itu. Begitu saya melihat jam, rupanya sudah pukul 03.30. “Perjalanan masih jauh, sampai di puncak sudah tidak lagi sunrise. Bagaimana, masih mau dilanjutkan?” Akhirnya, kami putuskan mengakhiri niatan melihat sunrise di Prau.

                                                             ***



Tamparan angin begitu terasa di wajah ketika saya dan mas Cebong naik motor menuju Sikunir. Ini sebagai trip pengganti gagalnya melihat sunrise di Prau. Sepanjang perjalanan saya sibuk menutup wajah dengan pashima biru. Sesekali lilitan pashima di wajah terpaksa saya buka karena mas Cebong mengajak bicara. Ketika azan Subuh bergema, kami tiba di mulut Sikunir.

Track Sikunir lumayan membuat lelah. Jalannya berupa tangga dari bebatuan. Untungnya hanya perlu waktu sekitar 15 menit untuk menuju titik pertama melihat sunrise. Sudah banyak orang di tempat itu. Sebagian besar adalah anak muda. Ada juga keluarga dengan satu anak laki-laki kecil. Semua saling mencari posisi terbaik untuk melihat matahari terbit.


Sekitar pukul 05.30 mulai terlihat semburat jingga. Tapi sayang, awan juga terlihat tebal. Benar saja, matahari tidak terlihat pagi itu, hanya sinarnya saja yang muncul. Meski begitu, semua orang disana sibuk memotret keindahan alam pagi itu. Pepohonan tanpa daun yang letaknya tepat dihadapan saya duduk, menjadi subjek foto yang menarik. Pukul 06.00 kami turun.

Pemandangan di danau dekat 'pintu masuk' Sikunir

Perjalanan berlanjut, kali ini menuju Bukit Ratapan Angin. Ini semacam menara pandang, namun tempatnya berupa bebatuan yang bisa ditempati untuk dua orang. Dari atas bebatuan terlihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Telaga warna berwarna hijau gelap, sementara Pengilon berwarna hijau kekuningan. Cantik. Tapi rasanya akan lebih cantik seandainya matahari pagi itu tidak kalah dengan tebalnya kabut dan awan mendung.
Pemandangan di Bukit Ratapan Angin

Motor kembali dipacu oleh mas Cebong. Ngebut. Tapi kali ini saya bisa melihat aktivitas pagi warga Dieng. Anak-anak berjalan menuju sekolah. Petani bersiap menuju kebun. Ada yang menarik saat saya memperhatikan wajah warga disana. Wajah mereka rata-rata putih dengan semu merah di bagian pipi. Mirip dengan orang kulit putih yang mukanya terpapar matahari. Saya senang melihat wajah seperti itu. Unik. Perjalanan pagi itu berakhir di tempat kami menginap. Kedua pengantar menyarankan kami untuk sarapan terlebih dahulu dan baru berlanjut jalan setelahnya.

Mendung menutupi langit Dieng siang itu. Mas Cebong masih menjadi pembawa motor dan saya pun masih menjadi orang yang dibawa. Lagi-lagi ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Terkadang, lubang pun dihajarnya. Saya was-was karena tidak pakai helm. Hanya doa dalam hati sambil mencoba mengusir pikiran-pikiran jelek yang bisa saya lakukan. Nyatanya, rasa khawatir terus menguasai diri saya. Bertanya tentang pipa-pipa panjang yang kerap dijumpai di jalan adalah salah satu cara saya untuk mengusir khawatir. "Pipa ini sebagai penyalur panas bumi. Disini ada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, mbak," jawab mas Cebong. Tak berapa lama, kami tiba di Sumur Jalatunda.

"Kalau bisa melempar batu hingga ujung batas air di seberang sana, semua permintaan bisa terkabul," kata mas Yayang. Sumur Jalatunda yang berarti sumur yang besar atau luas, airnya berwarna hijau pekat ke arah hitam. Letaknya cukup jauh dibawah dari pos tempat kami bersiap melempar batu ke arah sumur itu. Menurut hasil pencarian melalui Google, secara ilmiah sumur ini adalah kawah yang terbentuk akibat letusan gunung api jutaan tahun lalu. Air terus menerus mengisi kawah itu, lalu terbentuklah sumur raksasa berkedalaman ratusan meter. Konon, fenomena seperti Sumur Jalatunda juga terdapat di Meksiko. Diameter Jalatunda kurang lebih 90 meter. Jelas saja terbilang sulit untuk melempar batu hingga ke ujung. Puas melempar batu (dan kami berdua tidak berhasil), perjalanan berlanjut.

Jalan kecil bebatuan dan mendaki menjadi jalur yang harus kami lalui saat pergi ke Kawah Candradimuka . Sesekali mas Cebong berhenti karena mobil truk di depan kami berjalan amat pelan. Sialnya, mobil tua itu mengeluarkan asap hitam pekat jika sang supir mencoba membawanya sedikit ngebut. Gerimis pun mulai turun. Saya hanya bisa pasrah sambil berharap bukan air dari langit yang lebih deras yang turun.

Bau khas belerang terasa menyengat saat kami sampai di kawasan Kawah Candradimuka. Kawahnya sendiri baru bisa terlihat setelah  menuruni anak tangga yang seadanya. Dari beberapa kawah di sana, ada satu kawah di sebelah kiri yang ukurannya tidak terlalu besar, tapi terliha begitu aktif. Bunyi letupan air terdengar begitu jelas. Rupanya, inilah Kawah Candradimuka. Menurut legenda , konon ketika Gatot Kaca akan memperoleh kekuatan supernya, ia dimandikan di kawah itu.

Diantara gerimis, perjalanan wisata di seputar Dieng berlanjut. Kali ini kami menuju Kawah Sikidang. Sikidang berarti kijang. Mengapa tempat ini bernama kijang? Menurut mas Yayang, kawah-kawah di tempat itu kerap berpindah-pindah letaknya. Kawah paling besar di kawasan itu dipagari dengan kayu. Asapnya cukup tebal dengan bau belerang yang tidak terlalu menyengat. Kian didekati, bunyi buihan air di kawah itu kian kencang. "Dulu, kawah yang aktif bukan yang ini. Tapi sekarang berpindah ke sini," kata mas Yayang.
Saya menyusuri kawah-kawah kecil di sekitar Sikidang. Ada banyak rupanya. salah satunya dimanfaatkan untuk memasak telur rebus. Sayangnya, karena hari Senin, tidak terlalu banyak wisatawan disana. Jadi, tak ada yang jualan atraksi merebus telur hari itu.

Meski sudah siang, Dieng masih terasa dingin. Kami menikmati siang itu di kawasan Telaga Warna. Rupanya, tempat ini benar-benar bersolek. Seingat saya, sewaktu berkunjung ke sana saat SMP, tempatnya belum rapi dan bersih. Terbilang amat biasa, bahkan. Tapi hari itu saya melihat tempat wisata yang apik. Sudah pasti segar udaranya dan tampil cantik berkat bunga-bunga khas yang tumubuh di daerah dingin.
Telaga Warna sudah tentu jadi daya tarik utama dari tempat ini. Tapi, beberapa gua dengan latar cerita yang menarik tuturan mas Yayang juga tak kalah seru jadi daya tarik. Gua Jaran dipercaya memberi berkah bagi mereka yang ingin mendapatkan anak, ada juga Gua Semar yang konon dijadikan mantan presiden Soeharto sebagai tempat bertapa untuk menaklukkan keteguhan hati pemerintah Australia. Ini terkait dengan catatan sejarah  ketika Timor Timur akan dimasukkan menjadi wilayah Indonesia. Australia tidak rela dengan hal itu. Demi melembutkan hati pemimpin Australia, Soeharto melakukan pertapaan disana. Hasilnya, tanpa perlu negosiasi alot, Timor Timur menjadi bagian provinsi Indonesia (meski berpuluh tahun kemudian wilayah itu kembali terlepas :( )

Perjalanan hari pertama di dataran tinggi Dieng ditutup dengan menuju kompleks Candi Arjuna. Sayangnya,  candi-candi disana sedang mengalami pemugaran, jadi bagian dalamnya tidak boleh dimasuki. Jadi, tak banyak yang bisa dilakukan kecuali menjadi model dadakan dengan fotografer mas Cebong.

Hari kian siang dan perut terasa lapar, kami pun pulang ke "Bu Djono". Rasa lapar hari itu sukses terganjal dengan sup jamur yang hangat dan enak juga minuman (baru) kegemaran saya selama di Dieng, teh jahe. Selesai makan, saya dan Uniey kembali ke kamar. Kami tertidur hingga sore.

Saat makan malam, saya pilih soto ayam dan lagi-lagi teh jahe. Setelah itu kami diajak mas Kelik dan sang istri untuk menikmati tungku, penghalau dinginnya Dieng. Kami mulai membicarakan rencana perjalanan besok, kembali ke Sikunir di tepat hari ulang tahun Uniey. Kali ini kami akan ditemani mas Dwi sebagai guide.
                                                                                  ***


Comments

Popular posts from this blog

(Edu) Hostel, Yay or Nay?

Jalan-Jalan Jakarta Lewat Susur Oranje Boulevard

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can