Mengejar Sunrise di Puncak B29


Entah dimulai sejak kapan, saya selalu merasakan momen magis ketika bisa melihat langsung mentari terbit, di mana pun. Dimulai dengan melihat warna langit bergradasi biru dan jingga, hingga akhirnya matahari muncul, pasti ada perasaan haru, kagum, dan entah apa lagi karena saya sendiri kesulitan untuk mendapatkan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Ingin kembali merasakan momen magis itu yang membuat saya begitu bersemangat bangun jam 02.00 pagi pada 14 Agustus lalu.

Pagi itu saya sedang berada di Lumajang, Jawa Timur, bersama empat orang teman. Tempat yang akan kami tuju namanya Puncak B29 berada.  Katanya, ini puncak tertinggi di kawasan tepi kaldera Bromo. Tingginya mencapai 2900 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sebenarnya, tinggi puncak ini setara dengan Gunung Prau di Dieng, Jawa Tengah. Namun, kalau menuju Prau harus melewati perjalanan masuk hutan selayaknya naik gunung, menuju B29 bisa menggunakan ojek. Ini tentu kabar menyenangkan untuk mereka yang tidak kuat berjalan di dinginnya pagi dengan jalur yang sudah tentu terus menanjak.

Segerombolan tukang ojek langsung menyerbu begitu kami tiba. Mereka gaduh menawarkan diri. "Mbak, nanti naik motor saya saja, ya," pinta seorang laki-laki yang tidak bisa saya lihat dengan jelas. Maklum, tempat parkir mobil yang membawa saya dan teman-teman tidak diterangi dengan lampu yang memadai. "Nanti ya mas, saya ikut rombongan," jawab saya.  Setelah sepakat dengan harga pergi-pulang ke B29, saya kembali didatangi laki-laki yang tadi meminta saya naik motornya. Jenisnya motor trail dengan suara yang cukup berisik. Belajar dari pengalaman saat melihat matahari terbit di Puncak Sikunir, Dieng, saya langsung memasang sarung tangan, syal, kupluk, dan menutupi wajah dengan  pashmina. Terpaan angin yang dinginnya minta ampun dari atas motor adalah alasan mengapa saya melakukan itu.

Jalanan berbatu dan melewati pasir terus dihajar oleh si tukang ojek. Saya tidak berani mengajaknya bicara karena takut dia kehilangan fokus mengingat sisi kanan jalanan yang kami lewati adalah jurang. Daripada saya jadi takut karena si tukang ojek senang berjalan di sisi kanan, saya memilih untuk melihat ke arah langit. Ah, ada banyak bintang di sana. Ada yang berjajar tiga seolah membentuk sesuatu, ada yang berkelap-kelip. Inilah yang menyenangkan kalau mendatangi daerah dengan tingkat polusi udara yang rendah. Kurang lebih 45 menit, akhirnya saya tiba di depan sebuah warung. Ini semacam pintu gerbang menuju B29.

Setelah sekedar menghangatkan diri di depan tungku dan menikmati teh manis hangat, kami langsung menuju B29. Jalanan berpasir membuat langkah jadi sedikit berat. Di setengah perjalanan, sinar jingga mulai terlihat. Saya makin bersemangat berjalan. Sekitar 10 menit saya sudah di Puncak B29.

Gradasi awal langit sebelum Matahari terbit
Arah matahari terbit ada di depan saya. Kian dekat dengan waktu matahari terbit, perlahan langit berubah warna. Mulai dari jingga dengan gradasi biru, jingga bergradasi ungu, dan akhirnya total berwarna jingga. "Hai matahari, saya siap menyambut hari ini!," kata saya dalam hati sambil terus tersenyum senang dan mengagumi keindahan alam ini.

Arunika tiba. Mulai terlihat pemandangan di hadapan saya, ada Gunung Raung dari arah matahari terbit. Sementara,  di sisi kanan saya ada si gagah Mahameru. Ia sempat sedikit batuk, ada bumbungan asap yang keluar.

Mahameru terkena sapuan sinar matahari menjelang terbit

Mahameru sedikit batuk pagi itu
Bermain-main dengan matahari terbit
Puas melihat matahari terbit, saya bergegas menuju sisi yang tadi saya belakangi. Ternyata, di sana terlihat Bromo dengan kepulan asapnya dan Gunung Batok dengan ruasnya yang berwarna hijau kekuningan. Lautan pasir Bromo tidak tampak karena semua tertutup awan.  Ah, impian untuk ada di negeri di atas awan akhirnya terwujud.

Kawasan pasir Bromo-Gunung Batok yang tertutup kabut

Jam menunjukkan pukul 06.30, matahari pun kian tinggi. Kami putuskan untuk pulang, bersiap untuk petualangan selanjutnya di kota Probolinggo. Orang yang membawa saya kembali ke tempat parkiran masih si tukang ojek dengan motor trailnya. Kami kembali menelusuri jalanan berpasir dan berbatu. Saya kembali berpegangan erat pada jaket tukang ojek. Bonus dari perjalanan pulang adalah pemandangan perkebunan sayuran yang menghijau dan langit yang biru dengan awan tipis. Mahameru yang sejak tadi pagi tampak gagah seolah mengawasi perjalanan saya.

Kebun sayur penduduk Desa Argosari

Mahameru dari kejauhan


Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can