Terguncang-guncang di Bandung Barat



Follow my blog with Bloglovin

Semenjak hadir tanda pagar (#) explore (yang diikuti nama kota) di Instagram, muncullah wajah-wajah destinasi wisata yang selama ini belum diketahui publik di sosial media. Salah satunya adalah explore wisata di Bandung Barat yang selama ini lekat dengan Tangkuban Perahu.

Bermula dari hasil berburu di semacam acara bazaar tempat-tempat wisata dalam skala kecil di Citos, saya dan Uniey menemukan trip seru yang patut dicoba. Kenapa patut dicoba? Karena wisata di  Bandung Barat ini hanya sehari saja, lalu jenisnya adalah off road. Ini jenis trip yang belum pernah kami coba. Setelah rencana sana-sini, akhirnya trip dari akun @Jalan2terus yaitu off road dan dilanjutkan dengan berburu matahari terbit di Bukit Upas, Bandung Barat, sepakat untuk kami ikuti. Trip off road dan berburu matahari terbit di Bukit Upas itu diikuti oleh saya, Uniey, Wantah, Adi dan Tikey.

Seperti ini jalan yang harus kami lewati dengan berjalan kaki saat menuju Bukit Upas
12 Desember 2015. Kami berangkat kurang lebih pukul 21.00 menuju Bandung. Tepat pukul 23.30, kami tiba di Bandung. Karena peserta trip dikumpulkan di Giant Pasteur nanti jam 02.00, kami makan dulu di Setiabudhi.

Pukul 02.00. Bandung yang dingin makin terasa dingin saat jip Land Rover yang menurut mas Fajar -perwakilan dari @Jalan2Terus- keluaran tahun 1969 itu bergerak menuju Bukit Upas. Sekitar 45 menit kemudian, kami mulai memasuki gerbang perkebunan teh Sukawana milik PTPN, gerbang masuk ke Bukit Upas.

Bebatuan adalah jalan yang harus dilalui jip berwarna putih kekuningan yang kami berlima naiki. Mobil tua itu dikemudikan oleh  mas Wildan sebagai supir, mas Fajar (bukan mas Fajar yang diceritakan di atas. Ia  lebih muda) sebagai teman supir, dan mas Fajar (yang diceritakan di atas) yang mengatur segala kebutuhan peserta trip. Rombongan trip pagi buta itu diikuti kurang lebih oleh 20 orang dalam enam mobil jip Land Rover tua.

Kebun teh Sukawana tak tampak. Yang hanya terlihat hanya langit dengan awan yang cukup tebal. Namun, ketika jalanan yang dilalui terus menanjak, terlihat langit penuh dengan bintang. Sementara, jip yang suaranya memang terdengar seperti terengah-engah itu terus berjibaku menghantam bebatuan. Sesekali, sang supir unjuk kemampuan  bagaimana membawa kendaraan off road. Namun, semakin kami melaju, bukan hanya bebatuan yang harus dihantam, tapi juga tanah yang licin.

Jalanan kian licin, jip itu terus menerus dikendalikan untuk menaklukkan tanah dan batu. Jujur, saya agak takut karena terkadang posisi jip miring ke kanan atau ke kiri. Seolah siap menjatuhkan penumpangnya. Semakin menuju ke atas, perjalanan semakin sulit untuk dilalui jip-jip itu. Akhirnya, kami diminta untuk turun, dan masing-masing mobil dicoba untuk diderek.

 Terangnya pagi mulai terlihat ketika akhirnya dua mobil berhasil melalui jalanan menanjak yang licin dan terjal. Kami diminta untuk segera naik ke  mobil itu, untuk mengejar matahari terbit.  Seolah berpacu melawan waktu, kami semua terguncang-guncang di dalam Land Rover. Sesekali kami terpaksa menghindar dari tepi tempat duduk karena mobil itu terus menerabas tumbuh-tumbuhan yang subur berkembang di pinggir jalan.

Matahari terbit di Bukit Upas




Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kami tiba di 'pintu' menuju Bukit Upas. Sekarang giliran jalan kaki menuju ke sana. Jalannnya berupa tanah dan bebatuan, dan sedikit licin. Tak jarang, ada yang terjatuh. Kira-kira lebih dari 5 menit, akhirnya kami tiba di pinggiran Bukit Upas. Rona jingga mulai tampak di arah timur. Di kejauhan tampak gunung-gunung yang merupakan patahan Lembang, serta Gunung Ceremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, di bagian paling belakang.  Awan-awan juga tampak memenuhi sekitaran Tangkuban Perahu. Pepohonan dan asap belerang yang terletak jauh di bawah membuat Bukit Upas  tampak fotogenik.


Bermain dengan siluet pohon dan pengunjung di Bukit Upas




Bukit Upas belum banyak dikunjungi orang. Jadi, destinasi wisata ini termasuk baru.  Bagusnya, ia tidak bisa sembarangan didatangi karena medannya yang berat. Pilihan mendatangi Bukit Upas adalah dengan naik jip Land Rover, motor cross atau berjalan kaki.

Perkebunan teh  terhampar luas di jalan menuju Bukit Upas

Perjalanan pulang dimulai. Jip-jip itu tampak gahar menerjang jalanan bebatuan dan tanah dengan jalur yang menurun. Kami kembali dibuat terguncang-guncang ke kiri dan ke kanan. Meski begitu, tidak ada lagi adegan kami harus turun dari mobil. Hamparan perkebunan Sukawana serta perbukitan wilayah Lembang menjadi teman perjalanan pagi itu.

Sebenarnya, perjalanan off road dan berburu matahari terbit di Bukit Upas ditutup dengan menikmati kopi di hutan pinus. Sayang, tempat itu sedang digunakan untuk outing sebuah kantor, jadi harus mengantri untuk menggunakan tempat itu. Karena berdasarkan jadwal trip itu selesai jam 11, akhirnya perjalanan kami pun berakhir di pintu masuk menuju hutan pinus.





Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can