Sepotong Cerita di Bromo

*Ini cerita yang tertunda, dari perjalanan satu tahun yang lalu





Usia memang tak pernah bohong. Usai rafting seharian di Sungai Pekalen, badan ini terasa rontok semua. Niat untuk bangun pagi melihat matahari terbit di Bromo cuma jadi sekadar niat. Alarm berbunyi berkali-kali, tapi tidak ada dari kami berempat; Saya, Uniey, Wantah, dan Tieky,  yang benar-benar bangun.




Hari ketiga di Jawa Timur memang kami rencanakan untuk ke Bromo, melihat matahari terbit. Tapi karena terlambat bangun, niat itu sudah tidak mungkin. Kami tetap ke Bromo, mau melihat sudut magnet Bromo lainnya.



Pananjakan 1 -yang dikenal sebagai tempat melihat matahari terbit, adalah tempat pertama yang kami datangi. Meski tidak ada sunrise lagi di Bromo, Batok dan lautan pasir tetap jadi subjek foto yang menarik. Perjalanan berlanjut menuju kawah Bromo. Dari kaki kawah Bromo tampak ramai orang yang hendak menuju ke atas. Saya tidak berniat untuk ke sana karena sudah pernah.








Puas di bawah kawah, kami menuju Bukit Teletubbies. Rumput gersang kecokelatan di sepanjang jalan menuju bukit, terlihat eksotis. Agustus memang salah satu bulan terbaik mengunjungi Bromo. Di bulan yang masuk musim kemarau itu biasanya Bromo jadi tuan rumah yang ramah. Langitnya  bebas kabut, jadi matahari terbit pasti terlihat. Karena kemarau, rumput di sekitar memang jadi gersang atau tidak benar-benar hijau. Tapi Bukit Teletubbies tetap cantik dan memikat.
Atmosfer yang berbeda akan terasa kalau datang saat April. “Enggak banyak hujan, dan rumput di bukit hijau-hijau”, begitu kata supir Hardtop yang membawa kami.



Hari itu wajah Bromo dari Bukit Teletubbies terlihat manis. Langitnya biru terang dengan awan tipis, rerumputan di bukit berwarna kuning kehijauan, sementara rumput di bawah meranggas kecokelatan. Beberapa bapak-bapak penawar jasa naik kuda dengan tampilan memakai topi koboi juga sepatu boot, membuat Bukit Teletubbies seolah jadi wilayah koboi. Lucu juga membayangkan seandainya bukit itu adalah tempatnya para koboi di negeri seberang sana.









Kami naik Hardtop lagi,  menuju Pasir Berbisik. Siang itu angin cukup kencang. Kami kerepotan dibuatnya. Debunya bikin mata perih. Tangan juga harus sibuk memegang topi yang gampang melayang. Namun justru karena tiupan angin itu saya jadi benar-benar mendengar bebunyian yang membuat tempat ini dinamakan Pasir Berbisik. Tiupan angin yang menyapu pasir itulah asal kata nama tempat ini.






Meski panas menyengat di Pasir Berbisik, kami tidak takut. Banyak foto-foto narsis diambil di sini. Kami sempat pinjam bendera  Merah Putih milik seorang mbak yang kami tidak sempat kenalan. Jahat ya, sudah minjam, tapi enggak mau kenalan. Kebetulan, besok hari kemerdekaan negeri ini. Sudah tentu kami mau punya foto yang tampak patriotik.



Matahari terbit di Bromo memang gagal tujuan utama kami. Tapi Bromo punya banyak magnet lain yang menarik siapa pun. Perjalanan yang menyenangkan ke  tempat yang cantik. Lengkap sudah menikmati Bromo di musim kemarau.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

(Edu) Hostel, Yay or Nay?

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can

Jalan-Jalan Jakarta Lewat Susur Oranje Boulevard