Mengembara ke Ciletuh Geopark




Uniey berjalan pelan sambil sesekali menghela nafas. Kadang, ia juga berhenti, istirahat sejenak. Saya, yang berjalan agak di depannya, ikut berjalan pelan bahkan ikut berhenti. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 17.20, Uniey buka suara, "Lo duluan aja, Nev. Nanti gue minta aja foto sunset-nya."  Tapi saya tetap berjalan pelan menuggu Uniey. Sesekali, saya teriak memberikan semangat untuk dia. Memang, perjalanan menuju Puncak Darma di kawasan Ciletuh Geopark, bukan perjalanan yang mudah. Bikin capek, tepatnya. Jalan sepanjang tiga kilometer itu berupa bebatuan, dengan jalur menanjak dan sedikit menurun. Akhirnya, saat matahari pelan-pelan mulai turun ke arah Teluk Ciletuh, kami menyusul rombongan Adi, Wahyu, Suryo dan kang Irwin yang sudah sampai lebih dulu.

Sunset di Puncak Darma


Teluk Ciletuh yang mirip tapal kuda, terlihat jelas dari Puncak Darma. Lalu, dibawah lautan sana terlihat titik-titik putih. "Itu perahu-perahu nelayan yang mau mencari ikan nanti malam", jelas pemandu kami, Kang Irwin. Jejeran pengunjung Puncak Darma dan pepohonan juga rumah kecil tempat beristirahat, menjadi sileut menarik dari Puncak Darma.


Curug Sodong dari parkiran




Curug Sodong dari dekat


Sebenarnya, Puncak Darma adalah lokasi ketiga dari trip akhir pekan yang saya lakukan di 30-31 Juli lalu. Sebelumnya, kami mendatangi dua curug di Ciletuh, dari lima curug yang sudah dibuka untuk umum. Curug pertama, Curug Sodong, sangat mudah dijangkau. Mobil bisa berhenti tepat di depan curug kembar itu. Hanya perlu menuruni tangga kalau mau lihat curug ini lebih dekat lagi.


Curug Cikanteh



(Kiri bawah-kanan) Saya, Uniey, Suryo, Adi, Wahyu dan Tikey

Tak berlama-lama di Curug Sodong, kami jalan masuk ke hutan, menuju Curug Cikanteh. Jalur awalnya memang terlihat rapi, tangga semen. Tapi semakin masuk ke dalam, kami serasa diajak berpetualang. Ada jembatan bambu dan jalur bebatuan yang lumayan bikin capek. Untungnya, jalur ini selesai dalam waktu kurang lebih 15 menit. Buat saya, Curug Cikanteh adalah salah satu curug dengan latar bebatuan yang unik yang pernah saya lihat. Curug ini terdiri dari dua bagian. Curug bagian atas mengalir deras air terjun yang mirip dengan Air Terjun Kapas Biru di Lumajang. Di tingkat kedua, air terjun itu menyebar menuruni bebatuan besar berwarna cokelat. Cantik!

Pantai Palangpang



Hari kedua kami di Ciletuh dibuka dengan mendatangi Pantai Palangpang. Ini pantai yang kemarin kami lihat dari Puncak Darma, berbentuk seperti tapal kuda. Yang menarik, pantai ini punya latar jajaran pohon dan bukit berbatu kecokelatan. Di 'dinding' bukit itu, terlihat Curug Cimarinjung.
Lalu, kami mulai' bergerak' menuju Curug Awang. Perjalanan ke sini mirip dengan naik jet coaster di Dufan. Badan dibuat terayun-ayun karena kondisi jalan berbatu. Salah satu dari kami sempat bertanya pada kang Irwin, seperti apa jalur menuju Curug Awang. Kata kang Irwin, hanya jalan sebentar, lebih cepat dari jalan menuju Curug Cikanteh. Begitu tiba, kami memang melewati jalan semen yang rapi. Oleh kang Irwin, kami diajak melewati sisi samping tempat peristirahatan. Jalur ini melewati sawah penduduk yang bentukannya hampir serupa dengan sawah di Bali, berundak-undak. Rupanya, ini jalur tidak resmi menuju Curug Awang. Jalur resminya adalah berupa jalan turunan yang sedikit curam. Sebagai pegangan, ada tambang besar yang dipasang di sisi kiri.


Curug Awang
Jalan pintas menuju Curug Awang

Pemandangan sawah serupa di Bali

Curug Awang tak kalah menarik dari Curug Cikanteh. Kalau kata Tieky, "Mini Niagara". Sayangnya saat kami ke sana, air tidak sedang deras. Jadi, hanya sisi kanan saja airnya mengalir deras. Sementara, sisi kiri atas terlihat kering. Buat saya, sisi kiri itu dengan bebatuannya yang unik, jadi seperti sebuah kolam di satu rumah. Mirip kolam pribadi. Tapi dengar-dengar, dilarang mandi di curug ini karena ternyata lumayan dalam.

Curug Awang dari tempat peristirahatan


Kami memilih jalur resmi saat pulang. Sudah tentu itu jalanan menanjak. Saya perlu pegangan dengan tambang dan menariknya agar bisa menanjak. Sesekali, saya juga berhenti untuk mengatur nafas. Tiba di tempat istirahat, satu kelapa muda dengan airnya yang segar menjadi obat lelah yang pas, sebelum akhirnya meninggalkan Ciletuh dan kembali ke Jakarta.























Comments

Popular posts from this blog

24 Jam di Melaka

(Cerita pembuatan) Paspor Lima Tahun Lalu dan Sekarang

Kapas Biru and Tumpak Sewu Waterfall: Catch Us if You Can